Jumat, 06 November 2009

Keganjilan-Keganjilan di Pernyataan Kapolri

Sejak Senin hingga Jumat ini, publik seolah diperlihatkan dengan tontonan keganjilan-keganjilan pernyataan Kapolri berkaitan dengan kasus KPK dan Anggodo. Setidaknya, itu terlihat dalam beberapa pernyataan Kapolri di sejumlah media dan disaksikan jutaan orang.

Episod pertama adalah penegasan Kapolri didampingi Menkominfo kepada sejumlah wartawan bahwa Polri tidak melakukan kriminalisasi terhadap KPK. Kapolri pun meminta media untuk tidak lagi menggunakan istilah tersebut.

Keesokan harinya, Selasa, publik akhirnya bisa membandingkan antara pernyataan Kapolri dengan pemutaran rekaman telepon Anggodo ke sejumlah petinggi di kepolisian dan kejaksaan. Di situ, semua orang yang mendengar, tidak perlu lagi pendidikan tinggi dan logika yang jelimet, apa yang tersingkap dari rekaman jelas-jelas merupakan adanya upaya-upaya untuk mengkriminalisasi pimpinan KPK, khususnya Bibit dan Chandra.

Episod kedua adalah pernyataan awal Kapolri soal pengunduran diri Susno Duadji. Awalnya, ketika bertemu dengan tim pencari fakta, Kapolri menyatakan bahwa Susno Duadji mengundurkan diri atau dinonaktifkan.
Tapi, ketika rapat kerja dengan komisi III semalam, Kapolri menyatakan bahwa penonaktifan Susno hanya sementara selama proses pemeriksaan oleh TPF. Kalau sudah selesai, Susno Duadji pun bisa aktif kembali di posisi semula sebagai Kabareskrim.

Episod ketiga adalah soal kepergian Anggodo dari Mabes Polri ketika menjalani pemeriksaan. Kepada TPF, Kapolri menegaskan, seperti yang diucapkan Adnan Buyung Nasution, bahwa Anggodo masih berada di Mabes untuk menjalani pemeriksaan.

Ternyata, beberapa wartawan di antaranya dari media televisi pada Rabu malam sekitar jam 22.30, sempat merekam kepergian Anggodo dengan menumpangi mobil Avanza warna hitam. Anggodo keluar Mabes melewati pintu belakang. Dan ini pun akhirnya disaksikan jutaan penonton.

Episod Keempat adalah soal pencabutan pengakuan Ari Muladi soal pemberian langsung uang suap dari Anggodo ke pimpinan KPK, Bibit dan Chandra. Pada acara raker dengan komisi III DPR RI semalam, Kapolri menyatakan bahwa Ari Muladi tidak pernah mencabut pengakuannya pada BAP yang pertama. Artinya, Ari Muladi memang menyampaikan langsung uang suap tersebut ke Bibit dan Chandra.

Siang tadi, dalam wawancara dengan stasiun televisi, Ari Muladi menegaskan bahwa ia tidak memberikan langsung uang suap dari Anggodo ke pimpinan KPK, baik Chandra maupun Bibit. Ari memberikannya ke orang yang bernama Yulianto. mnh

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/nasional/kebohongan-kebohongan-di-pernyataan-kapolri.htm

Ari Muladi : Saya Tidak Pernah Bertemu Chandra dan Bibit

Jakarta - Berita acara pemeriksaan (BAP) Ari Muladi tertanggal 15 Juli yang telah dicabut Ari Muladi dijadikan bekal oleh polisi untuk menjerat Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Dengan tegas Ari Muladi mengaku tidak pernah sekali pun bertemu dengan Chandra maupun Bibit.

"Saya tidak pernah bertemu dengan Ade Raharja (pejabat KPK-red), Chandra, Bibit. Tidak pernah sekali pun," kata Ari Muladi dalam wawancara eksklusif di Metro TV, Jumat (6/11/2009). Pernyataan Ari seirama dengan pengakuan Chandra bahwa dia tak mengenal dan tak pernah bertemu Ari Muladi.

Ari Muladi mengakui telah tidak jujur saat diperiksa oleh polisi pada 15 Juli lalu. "Saya dulu berbohong karena saya ingin menolong teman saya, Anggodo. Biar seolah-olah saya yang di depan," kata Ari Muladi.

Ari kembali menegaskan, tidak pernah menyerahkan uang sepeser pun ke pimpinan ataupun pejabat KPK. Uang itu diberikannya kepada seseorang bernama Yulianto.

Ari Muladi mengatakan, sosok Yulianto benar-benar ada. Ari Muladi telah menggambarkan sosok Yulianto di depan penyidik Polri.

"Saya bisa gambarkan ke penyidik yang terakhir. Ke Pak Didit ya, bukan Pak Dikdik, dia khusus menanyai saya khusus soal Yulianto ini," katanya.

Namun Ari Muladi tidak mengetahui keberadaan Yulianto. "Saya nggak bisa nyari, itu menjadi tugas polisi," katanya.

Dalam dokumen 15 Juli yang dibuat bersama Ari dan Anggodo Widjojo dengan tanda tangan di atas materai, Ari mengaku menyerahkan uang dari Anggodo ke pimpinan KPK.

Namun kemudian, Ari mencabut pernyataannya itu. Dia mengaku saat membuat pengakuan itu di bawah tekanan. Ari kemudian menyebut bila dia menyerahkan uang ke Yulianto yang sekarang masih misterius.

Namun polisi tetap akan menggunakan BAP tersebut karena Ari dianggap tidak mencabut keterangannya namun hanya menambahkan bahwa uang Rp 1 miliar itu diserahkan kepada Yulianto.
(ken/nrl)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/11/06/161933/1236804/10/ari-muladi-saya-tidak-pernah-bertemu-chandra-dan-bibit

Rabu, 04 November 2009

Nanan Sukarna Calon Kuat Kabareskrim

Jakarta - Komjen Pol Susno Duadji diisukan akan mengundurkan diri sebagai Kabareskrim pagi ini. Siapa penggantinya? Irjen Pol Nanan Sukarna disebut-sebut menjadi calon kuat.

"Nama Nanan sangat kuat untuk menjadi Kabareskrim," kata sumber detikcom yang sangat dekat dengan sejumlah pati Mabes Polri, Rabu (11/4/2009).

Sebenarnya calon untuk menduduki jabatan tersebut sempat muncul tiga jenderal bintang dua. Selain Nanan, mereka adalah Kapolda Jabar Irjen Pol Timur Pradopo dan Kapolda Kaltim Irjen Pol Mathius Salempang.

Namun, dari ketiga calon itu, kemungkinan Nanan yang akan dipilih. Selain dinilai berhasil dalam mengemban Kadiv Humas Polri, Nanan juga dinilai memiliki komunikasi yang baik dengan berbagai pihak. Nanan yang pernah menjadi Kapolda Sumut juga berpengalaman di bidang reserse.

Indikasi Nanan akan terpilih sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa hari terakhir. Selain sering mendampingi Kapolri dalam berbagai kesempatan, Nanan juga telah bertemu Kapolri dan Presiden SBY beberapa hari lalu.

Selain itu, Nanan juga dinilai pandai untuk mencari simpati masyarakat. Salah satunya, Senin (2/11/2009), Nanan tampil mengejutkan, karena mengenakan pita hitam di lengannya.

Berikut ini adalah profil Kadiv Humas Irjen Pol Nanan Sukarna:

Lulusan Akpol 1978 ini pada 2006 pernah menjabat sebagai Kapolda Kalbar. Di sana dia sempat membuat gebrakan dengan memasangkan pin Anti KKN bagi setiap anggota Polda Kalbar.

Setelah di Kalbar, Nanan menjadi staf ahli Kapolri bidang sosial politik. Cukup lama sebagai staf ahli, pada 2008 Nanan diberi tanggung jawab sebagai Kapolda Sumut.

Hingga kemudian pada Februari 2009, dia dimutasi kembali ke Mabes Polri sebagai staf ahli. Saat itu santer terdengar, pergantian Nanan terkait dengan demo maut di Sumut, yang berbuntut meninggalnya Ketua DPRD Sumut Azis Angkat.

Hanya beberapa bulan menjadi staf ahli, Nanan kembali mendapatkan posisi strategis yaitu Kadiv Humas, pada Juni 2009. Sebagai humas, di tengah isu perseteruan KPK dan Polri, Nanan sempat muncul di televisi dengan memakai pita hitam, yang merupakan lambang mendukung KPK. Dia beralasan, polisi juga ikut mendukung keberadaan KPK, karena 120 anggota polisi bertugas di sana.

(mok/nrl)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/11/04/081550/1234635/10/nanan-sukarna-calon-kuat-kabareskrim?991101605