Senin, 18 Januari 2010

Bukti Al-Qur'an Tidak Jelas!!

oleh: Jango98

Inilah adalah bentuk ketidak jelasan, kontradiksi dalam Quran. Allah menyatakan bahwa Quran diturunkan dengan bahasa arab yang jelas. Yang namanya jelas tentu harus dapat dipahami tanpa ditafsir yang aneka ragam. “Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan dalam bahasa Arab”(QS. Ar Ra’d 13 : 37) “dengan bahasa Arab yang jelas”(Qs. Asy Syu’araa’ 26 : 195), “Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan”(QS, Az Zumar 39 : 28) TETAPI apa yang terjadi dengan ayat-ayat berikut (buanyak bangetz), yang TIDAK JELAS sama sekali bahkan ULAMA-ULAMA islam kebingungan dan tidak ada yang tahu maknanya. “Alif laam miin”(Qs. Albaqarah 2:1, Almaidah 3:1, Luqman 31:1, As Sajdah 32:1, ), “Alif laam raa,”(Qs. Huud 11:1, Yusuf 12:1), “Alif laam miim raa”(Qs. Ar Ra’d 13:1, Ibrahim 14:1, Al Hijr 15:1), “Yaa siin”(QS. Yasiin 36:1), “Shaad”(QS. Shaad 38:1), “Haa Miim”(Qs. Al Mu’min 40:1, Fushshilat 41:1, Asy Syuura 42:1, Az Zukhruf 43:1, Ad Dukhaan 44:1, Al Jaatsiyah 45:1, Al Ahqaaf 46:1), “Qaaf”(Qs. Qaaf 50:1), “Nun”(QS. Al Qalam 68:1) inilah bukti ketidak jelasan Quran & kontradiksi quran. baca tulisan Ahli Quran ini : ( Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang MENYERAHKAN – ini berarti tidak jelas.pen- pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya -jika jelas kenapa ditafsir.pen)

source: http://islam.nab.su/artikel7.html

Penghakiman sepihak yang sungguh-sungguh sangat menyesatkan dari pengarang situs tersebut. Tanpa dia mau meneliti barang sedikitpun akan penjelasan-penjelasan yang sebenarnya sudah gamblang.

Alief adalah abjad pertama dalam huruf Hijaiyyah sedangkan berturut-turut Lam dan Miem merupakan abjad ke-23 dan ke-24 dalam susunan huruf Hijaiyyah.

Para penafsir al-Qur’an terbagi atas beberapa bagian dalam memahami ayat pertama dari surah al-Baqarah ini, sebagaimana bisa dibaca juga dalam penjelasan al-Qur’an terbitan Departemen Agama Republik Indonesia :

Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu. ( al-Qur’an dan terjemahnya Edisi Revisi 1989, Departemen Agama Republik Indonesia Jakarta Penerbit Gema Risalah Press Bandung hal. 8)

A. Hassan sendiri dalam Tafsir al-Furqonnya pada halaman 2 footnote 9 yang merupakan penjelasan dari ayat ini menulis :

Menurut sebahagian dari tafsir-tafsir, bahwa :
a. Alief itu ringkasan atau potongan huruf dari kalimah Allah atau Ana ( artinya AKU )
b. Lam itu ringkasan atau potongan huruf Jibril, Allah atau Latief ( Maha Halus )
c. Miem itu ringkasan atau potongan huruf dari Muhammad, A’lam ( Maha Mengetahui ) atau Majid ( Maha Mulia )

Sehingga kata-kata Alief-Lam-Miem bisa berartikan :

a. Allah, Jibril, Muhammad
b. Aku, Allah, Yang Maha Mengetahui
c. Allah, Yang Maha Halus, Yang Maha Mulia

Jadi maksudnya bahwa :

a. Qur’an ini dari Allah kepada Jibril kepada Muhammad
b. Qur’an ini dari-Ku, Allah, yang Maha Mengetahui
c. Qur’an ini dari Allah, Maha Halus dan Maha Mulia
( Sumber : Tafsir al-Furqon, A. Hassan terbitan Persatuan Islam Bangil 26 April 1956 / 15 Ramadhan 1375 H )

Dalam buku : Pengantar Fenomenologi al-Qur’an karya Lukman Abdul Qohar Sumabrata dkk halaman 83 dan 84 menuliskan bahwa huruf Alief merupakan makna simbolis dari Otak atau pribadi, huruf Lam merupakan simbol dari Manusia/Tubuh dan huruf Miem merupakan simbol dari Mata Rantai atau kaitan.

Pada halaman 93 s/d 99 kemudian dipaparkan tentang keberadaan 29 surat yang memiliki ayat-ayat penggalan sejenis dari total 6236 jumlah ayat al-Qur’an. Yang mana menurut penulis buku ini, adanya huruf-huruf singkat ( yang mirip sandi ) tersebut selalu menjadi persoalan karena menyimpang dari kaidah gramatika bahasa arab.

Sehingga lalu menimbulkan kesimpulan bahwa ini merupakan huruf-huruf simbolik yang memiliki makna tersendiri yang membutuhkan penterjemahan kedalam bahasa konvensi yang bersifat verbal.

Disamping itu pemaknaan secara simbolik dalam hubungan ini juga dilakukan atas dasar model rasionalitas tertentu, yang tidak bersifat ad-hoc ( sepotong-potong ). Salah satunya dengan cara mengkorelasikan antara satu sandi dengan sandi lain yang ada dalam al-Qur’an. ( 28 surat lain yang memiliki ayat-ayat sejenis adalah : Ali Imron, al-A’raaf, Yuunus, Huud, Yuusuf, Ar-Ra’du, Ibrahim, al-Hijr, Maryam, Thaha, asy-Syu’ara, an-Naml, al-Qashash, al-’Ankabut, ar-Ruum, Luqman, as-Sajdah, Yaa-siin, Shaad, al-Mu’min, al-Fushilat, asy-Syuuraa, az-Zuhruuf, ad-Dukhan, al-Jatsiyah, al-Ahqaaf, Qaaf dan al-Qolam ).

Dalam al-Baqarah, ayat pertamanya adalah huruf Alief ( disusul Lam dan Miem ).

Angka satu ( yaitu mengacu pada nomor ayat yang pertama ( 1 ) ) sama dengan huruf Alief yang artinya otak atau pribadi. Jelaslah disini bahwa huruf al-Qur’an merupakan simbol dari sesuatu yang harus diolah oleh otak dan dijadikan agenda atau bahan pemikiran bagi manusia.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. -Qs. 2 al-Baqarah: 266

Seterusnya, kausalitas dalam suatu rangkaian peristiwa yang berlaku dapat di-identifikasi, bahkan dapat diukur melalui perhitungan tertentu sebab-sebab dan berbagai variabel yang mendukungnya.

( Lihat : Pengantar Fenomenologi al-Qur’an, Dimensi keilmuan dibalik Mushaf Utsmani karya Lukman Abdul Qohar Sumabrata, Dr. Lukman Saksono MSc dan Drs. Anharudin terbitan Grafikatama Jaya )

Lain pula dengan apa yang disampaikan oleh Abu Abdurrahman as-Salmi sebagaimana dikutip oleh Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi dalam bukunya : Penyimpangan-penyimpangan dalam penafsiran al-Qur’an terbitan Rajawali Pers halaman 105-106:

Alif-Lam-Mim merupakan kombinasi dari Alief yang artinya aliful wahdaniyah ( ke-esaan ), huruf Lam adalah Lamul luthfi ( kelembutan ) dan huruf Miem adalah Miemul Mulki ( kerajaan ), sehingga pengertiannya : siapa saja yang dapat menemukan diri-Ku secara hakekat dengan jalan memutuskan hubungan dan keinginan yang bersifat duniawi akan aku Kasihi … Aku akan membebaskannya dari status budak dan menempatkannya pada martabat yang tertinggi ; artinya berhubungan dengan Allah, pemilik semua kerajaan.

Selanjutnya Abu Abdurrahman as-Salmi mengatakan :

Alif-Lam-Mim mempunyai makna : Alief berarti cucilah batinmu, Lam berarti anggota-anggota tubuhmu dimaksudkan untuk beribadah kepada-Ku dan Miem berarti berbuatlah bersama-Ku untuk mengubah bentuk dan sifat-sifatmu. Aku akan menghiasimu dengan sifat-sifat senang berada bersama-Ku, menyaksikan Aku dan berdekatan dengan-Ku.

Bagaimanapun, penafsiran dari as-Salimi ini penuh metafora dan nuansa sufistiknya kental sekali sehingga bisa membuat bingung orang-orang awam yang mencoba mempelajari maksud dari kata-kata agungnya tersebut.

Pada akhirnya, ketiga huruf Hijaiyyah dalam ayat pertama surah al-Baqarah ini menjadi sebuah isyarat kepada manusia, khususnya orang-orang yang beriman untuk mau terus belajar dan mengkaji apa-apa yang sudah diwahyukan kepadanya sebagai suatu tuntunan dalam menempuh hidup dan kehidupan didunia ini.;

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk Tuhan, al-Qur’an diwahyukan bukan untuk menjadi mantera-mantera sebagaimana ada di film-film misteri ditelevisi, tetapi al-Qur’an diwahyukan agar manusia ini tidak menghambat otaknya dalam memikirkan ayat-ayat Allah sehingga benar-benar bisa menjadikannya pedoman.

uruf Alief yang berdiri tegak menyerupai pilar penyanggah dalam suatu bangunan yang tanpanya maka bangunan apapun tidak akan pernah bisa berdiri, Alief bisa jadi sebuah cermin kemandirian, keteguhan dan kesetiaan ( bukankah Alief yang menyerupai angka 1 ini juga merupakan huruf pertama yang menyusun kata-kata Allah dan bukankah huruf Alief ini juga simbol dari ke-esaan Allah yang artinya bentuk pengakuan akan keberadaan satu-satunya Tuhan dalam konsep Islam dan prinsip Tauhid adalah melarang menjadikan yang lain sebagai Tuhan ? inilah sebuah pengajaran akan kesetiaan, keloyalitasan dan pengabdian yang sebenarnya )

Huruf Lam yang bagaikan cangkul seakan mengisyaratkan keharusan untuk menggali dan terus menggali ilmu-ilmunya Allah yang tersebar tidak hanya dalam wujud tekstualitas mushaf al-Qur’an namun juga semua ilmu yang ada disemesta raya sebagai tanda-tanda yang harusnya membuat manusia semakin mawas diri.

Sedangkan huruf Miem bagaikan sebuah mata rantai yang bisa mengikat huruf Hijaiyyah apa saja, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa huruf Miem dapat berada pada posisi manapun, ditengah didepan ataupun diakhir. Ini seperti yang diungkapkan oleh L.A.Q.Sumabrata tidak ubahnya penggambaran akan sebuah peristiwa bisa merupakan sebab dari peristiwa berikutnya maupun akibat dari peristiwa sebelumnya.

Alih Laam mim juga disebut sebagai initial dalam Alquran. Pengertian inisial di sini merujuk pada susunan huruf-huruf yang mengawali sejumlah surat dalam Al-Qur’an, misalnya “Alif-Lim-Mim”, “Alif-Lam-Ra’”, dan sebagainya. Dalam Al-Qur’an jumlah surat yang diawali atau mengandung INISIAL ada sebanyak 29 surat. Dari seluruh inisial yang mengawali ke-29 surat tersebut, ada sebanyak 14 jenis inisial (susunan huruf spesial) yang berbeda. Susunan 14 jenis inisial tersebut dibentuk oleh 14 huruf yang berbeda. Menurut kaidah matematika, 14 adalah 7dikalikan 2

Pertanyaan: Ada apa dengan angka 7? Mengapa angka 7? Halaman-halaman berikut mencoba menjelaskan fenomena menarik tentang angka 7 berkaitan dengan keajaiban matematis dari Al-Qur’an.

Angka 7: Sebuah Pola Matematis Lain dari Sistem Penulisan Al Qur’an
Selain sistem 19 yang merupakan format secara umum sebagai kode matematis yang digunakan Allah dalam menuliskan Al-Qur’an, ternyata angka 7 juga mewarnai keajaiban matematis lain dari Al-Qur’an.

Penemuan kedua pola matematis itu ditambah dengan pola matematis lainnya yang banyak dijumpai dalam penulisan Al-Qur’an seperti frekuensi munculnya kata-kata tertentu memperkuat bukti bahwa Al-Qur’an disusun mengikuti pola matematis yang seorang manusia-pun tidak akan mampu membuat sebuah buku dengan disain matematis seperti yang dijumpai di Al-Qur’an, baik susunan surat, ayat, kata, huruf dan hubungan antar keempat komponen tersebut.

Angka 7 merupakan angka yang spesial. Angka 7 banyak mewarnai ciptaan Allah. Allah menciptakan 7 lapis langit, 7 lapisan bumi, dan 7 lapis atmosfir. Bagi yang belajar kimia tentu tahu bahwa ada 7 orbit dalam atom. Allah juga menciptakan 7 hari dalam satu minggu.

Dalam kaitannya dengan ritual Islam, ketika shalat kita sujud dengan bertumpu pada 7 bagian tubuh (dahi, kedua telapak tangan, kedua tumit dan kedua kaki). Ketika orang melakukan ibadah haji, orang harus melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak 7 kali, berjalan antara bukit Shafa dan Marwah 7 kali, melempar jumrah 7 kali. Al-Qur’an juga diawali dengan 7 ayat surat Al-Fatihah.

Perlu dijelaskan bahwa konsep angka 7 disini merujuk pada semua bilangan yang habis dibagi dengan 7 atau merupakan kelipatan 7, misalnya 14, 21, 28, 35, dst yang semua bilangan tersebut habis dibagi 7.

Jika seseorang mengganti huruf-huruf pada inisial yang ada dalam Al-Qur’an, menurut Alkaheel, interpretasi dari ayat-ayat dan surat yang memuat inisial tidak akan berubah. Akan tetapi, menurut dia, berdasarkan logika bahwa Allah tidak mungkin secara sembarangan menempatkan huruf-huruf pada inisial yang mengawali surat di Al Qur’an, tetapi Allah sengaja menempatkan huruf-huruf tersebut sebagai inisial, maka jika kita ganti satu huruf dalam susunan di inisial “Alif Lam Mim” misalnya, hal itu akan merubah seluruh struktur. Dengan kata lain, dalam huruf-huruf dalam susunan di inisial tersebut terdapat keajaiban (miracle) yang dapat menjaga sekaligus mencegah Al Qur’an dari perubahan yang mungkin dilakukan manusia.

Semoga penjelasan-penjelasan di atas bisa dipahami.

Wassalam.

Sumber

Fitnah : Allah adalah Raja Setan

Oleh: Jango98

Tidak ada lagi selain RAJA SETAN (IBLIS) yang mengirim setan-setan kepada manusia. Tuhan tidak akan mengirim setan-setan melainkan utusan yang baik yg akan membimbing manusia namun auloh.swt telah mengirim setan-setan kepada orang kafir, itu berarti dialah yang menggoda dan menyebabkan manusia menjadi kafir. Siapa lagi yang mengirim SETAN-SETAN kalau bukan RAJA SETAN yaitu auloh.swt sebagaimana yang tertulis dalam quran.”Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah MENGIRIM SETAN-SETAN itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?,” (QS. Maryam9 : 83)

source: http://islam.nab.su/artikel1.html

Pertama-tama dalam menanggapi fitnahan ini adalah bahwa QS. Maryam bukanlah surah ke 9, melainkan ke 19. Dalam hal ini terlihat bahwa pengarang situs tersebut bukanlah orang yang teliti dan hanya bermaksud melakukan penyesatan. Ayat tersebut juga dipotong dengan semena-mena sehingga mengaburkan latar belakang dari turunnya ayat tersebut. Saia mencoba memberikan sambungan dari QS. Maryam tersebut:

19. 83. Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan- syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?,

19. 84. maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.

19. 85. (Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat,

9. 86. dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.

19. 87. Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah [910]. [910]. Maksudnya: “mengadakan perjanjian dengan Allah” ialah menjalankan segala perintah Allah dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya.

19. 88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.

19. 89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,

19. 90. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,

19. 91. karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.

19. 92. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.

19. 93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.

19. 94. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.

19. 95. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

19. 96. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah [911] akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. [911].

Dalam surat Maryam ini nama Allah “AR RAHMAAN” banyak disebut, untuk memberi pengertian bahwa,Allah memberi ampun tanpa perantara.

Patut dipahami bahwa Allah SWT adalah Maha Pencipta. Dia menciptakan malaikat, manusia, dan jin. Namun apakah patut Allah SWT disebut malaikat ketika dia menciptakan malaikat? Apakah patut Allah SWT disebut raja manusia ketika dia menciptakan manusia? Tentu tidak bukan? Maka tidak patutlah Allah SWT disebut sebagai raja setan ketika Dia menciptakan setan. Sebab Allah SWT bukanlah makluk ciptaan-Nya. Allah SWT adalah sang khalik sehingga tidak layak disamakan dengan hamba, walaupun dianugerahi gelar raja.

Kalau kita menyimak Quran Surat Maryam di atas, maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa surat tersebut berlatar belakang kemurkaan Allah SWT terhadap lahirnya ajaran kristen yang mengatakan bahwa Allah SWT memiliki anak. Jelas kentara betapa murkanya Allah SWT ketika disekutukan dengan makluk ciptaan-Nya.

Setan-setan diciptakan untuk menguji kualitas keimanan manusia kepada Allah SWT. Setan-setan diciptakan untuk menjadikan manusia yang tahan dengan godaannya, menjadi manusia yang berkualitas di sisi Allah. Tidak akan bisa kita membedakan intan dengan batu biasa, kalau intan itu tidak diasah. Tidak akan bisa kita melihat kualitas seorang yang beriman, kalau imannya belum diuji. Setanlah yang dijadikan Allah sebagai makluk penguji keimanan seorang anak manusia. Manusia diberi bekal akal fikiran untuk bisa membedakan yang baik dengan yang buruk.

Secara hakikat, setan bisa dianalogikan sebagai hawa nafsu di hati setiap manusia. Dan akal fikiran adalah kiasan untuk sosok malaikat penjaga di dada setiap manusia. Maka rusaklah si manusia itu jika nafsu sudah menguasai akal sehatnya. Dan baiklah si manusia itu ketika dia bisa meletakkan kendali nafsunya di bawah kendali akal fikiran yang sehat. Meletakkan nafsu setan dibawah kendali akal fikiran (malaikat) inilah yang disebut dengan “kecerdasan emosional” oleh ilmu pengetahuan modern. Lihatlah betapa Alquran sudah mengajarkan “kecerdasan emosional” itu jauh sebelum manusia tahu namanya. Sungguh tidak ada keraguan bahwa Alquran adalah berasal dari Sang Maha Mengetahui.

Jika kita kaji dengan pemikiran sederhana, penciptaan setan juga berfungsi sebagai pembanding akan adanya malaikat. Lihatlah ketika segala apa yang ‘ada’ di dunia ini diciptakan serba dua. Untuk apa? Untuk kita bisa mengenal tentang keberadaan itu sendiri.

Lihatlah kita baru akan mengenal siang ketika ada malam sebagai pembandingnya. Kita baru akan mengenal kiri ketika ada kanan sebagai pembandingnya. Kita baru akan mengenal atas ketika ada bawah sebagai pembandingnya. Dan kita barulah akan tahu bahwa kita berbuat baik, ketika ada yang buruk / jahat sebagai pembandingnya. Jadi kehadiran setan di dunia ini adalah sebagai pelengkap untuk mengetahui kehadiran malaikat di diri kita. Kehadiran bisikan-bisikan jahat dari setan memberitahu kita bahwa ada bisikan-bisikan kebaikkan di hati kita. Maka akan berkualitaslah kita jika terus menerus mampu menolak setiap bisikkan jahat dan mengerjakan bisikkan-bisikkan berbuat kebaikkan.

Perhatikanlah ketika Anda berbuat dosa. Maka hati Anda akan dilanda kegelisahan, ketakutan, dan ketidaktentraman. Anda akan merasa nyaman dan bahagia ketika mampu menolak suatu keinginan jahat dan menggantinya dengan perbuatan baik. Hati Anda merasa nyaman, tentram, dan bahagia. Dapatkah Anda merasakan semua kebahagiaan hati itu, tanpa Anda mengenal yang jahat dan menolaknya? Saia rasa tidak. Hidup akan monoton sekali ketika semua orang tidak mengenal baik dan buruk. Setiap orang tidak akan tahu bahwa dirinya bahagia ketika tidak pernah mampir rasa kegelisahan di hatinya. Jadi Allah SWT selalu menciptakan dua sisi, untuk mengetahui masing-masing sisi yang lainnya. Semua ini adalah hakikat penciptaan keduaan dari Allah SWT.

Semoga pengarang situs tersebut diberi petunjuk oleh Allah SWT.

Wassalam.

Sumber